Home » Kebudayaan

kolom budaya – Bengkel Kemb’ara Wangs’a, Johor-Riau-Lingga (1)

24 August 2009 No Comment

Oleh Abdul Malik, M.Pd, Dekan FKIP UMRAH Tanjungpinang

Artikel ini dimuat juga di batampos.co.id

Abdul_malik1KERAJAAN Negeri Johor pada 10—12 Agustus 2009 menyelenggarakan Bengkel (Workshop) Kembara Wangsa: Pembangunan Tapak-Tapak Sejarah di Sepanjang Sungai Johor. Penyelenggara kegiatan adalah Yayasan Warisan Johor, suatu badan yang berada di bawah Menteri Besar (setingkat gubernur, AM) Johor. Kembara wangsa itu sendiri ditakrifi sebagai gambaran perjalanan, pengembaraan, dan perpindahan bangsa Melayu sejak 1511 satu lokasi ke lokasi lain, dari satu pusat pemerintahan ke pusat pemerintahan yang lain pada zaman pemerintahan Kesultanan Melayu Johor-Riau atau Riau-Johor dari Sungai Johor hingga ke Kepulauan Riau yang meninggalkan tapak-tapak (jejak-jejak) sejarah tinggalan warisan silam. Matlamat yang hendak dicapai oleh Bengkel ini adalah untuk memperoleh pandangan-pandangan dan rencana-rencana yang konkret, yang dapat dijadikan rujukan dan pedoman oleh Kerajaan Negeri Johor untuk melaksanakan pembangunan tapak-tapak sejarah di sepanjang Sungai Johor sebagai destinasi pelancongan (pariwisata).

Untuk mencapai matlam’at itu, Panitia mengundang lima orang pembicara. Para pembenta’ng makalah itu terdiri atas Prof. Dr. Abdullah Zakaria Ghazali (Universiti Malaya, Kuala Lumpur), Prof. Datuk Dr. Nik Hassan Suhaimi Abd. Rahman (Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur), Prof. Dr. Amran bin Hamzah (Universiti Teknologi Malaysia, Johor Bahru), Abdul Malik (Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang), dan Tuan Hj. Azam bin Mohd. Abid (Pengarah Jabatan Perancangan Bandar dan Desa Johor). Saya diminta membentangkan makalah “Kemungkinan Kerja Sama Kepulauan Riau-Johor dalam Pembangunan Pelancongan”. Selain itu, dari Kepulauan Riau juga diundang peserta aktif yang terdiri atas Rektor UMRAH, Dra. Hj. Isnaini Leo Shanty (Dosen UMRAH), Hj. Djuraida Idris (Ikatan Keluarga Besar UMRAH), R. Malik A.R. Hamzah (Balai Kajian Sejarah, Penyengat Indrasakti, Kepri), dan Basyaruddin Idris (Majelis Belia Melayu Kepri).

Mengawali kegiatan pada Senin, 10 Agustus 2009, semua peserta dibawa menyusuri Sungai Johor seraya mengunjungi tapak-tapak sejarah di sepanjang sungai itu. Dengan pengawalan keselamatan yang sangat menyenangkan, para peserta Bengkel diberangkatkan dari dermaga Kota Tinggi. Dari situ rombongan yang diangkut dengan speed boat yang berperangkat keselamatan lengkap dibawa menuju ke hulu sungai untuk berziarah ke makam Megat Seri Rama atau di Johor lebih terkenal dengan sebutan Laksemana Bentan, yang terdapat di Kampung Kelantan, kurang lebih 2 km dari Bandar Kota Tinggi. Dengan demikian, dugaan masyarakat Bintan bahwa di Komplek Makam Bukit Batu, Bintan terdapat makam Megat Seri Rama menjadi tak berdasar karena makam beliau ternyata di Kampung Kelantan, Kota Tinggi, Johor.

Megat Seri Rama mencapai jabatan tertinggi sebagai Laksemana atau Panglima Angkatan Laut Kerajaan Johor pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah II. Megat Seri Rama meninggal pada 29 Oktober 1698 setelah beliau menikam Sultan Mahmud karena menuntut bela atas kematian istrinya, Dang Anum, yang dibunuh oleh Tun Bija Ali atas perintah Sultan Mahmud pada 23 Oktober 1698. Pasalnya, Dang Anum makan seulas nangka milik Sultan karena mengidam ketika hamil anak sulung. Megat Seri Rama meninggal karena kena lemparan keris Sultan Mahmud di ujung ibu jari kakinya dan disumpah muntah darah oleh Sultan. Sumpah itu berlaku kepada tujuh keturunan Laksemana, tak boleh menginjakkan kaki di Kota Tinggi dan atau Johor Lama, yang kalau dilanggar akan muntah darah. Sultan Mahmud juga mangkat karena ditikam oleh Megat Seri Rama ketika dijulang. Itulah sebabnya, setelah mangkat Baginda disebut Marhum Mangkat Dijulang. Peristiwa itu merupakan yang paling tragis dalam sejarah Melayu sepanjang masa, jauh lebih tragis daripada perlawanan Hang Jebat terhadap Sultan Melaka. Pusara Laksemana Bentan dan istrinya tercinta, Dang Anum, bersanding mesra di Kompek Makam Kampung Kelantan.

Dari Kampung Kelantan rombongan dibawa menghilir ke Kampung Makam Kota Tauhid, Kota Tinggi. Di Kampung ini terdapat dua makam penting yaitu Makam Sultan Mahmud Mangkat Dijulang dan Makam Tun Habib Abdul Majid. Kota Tauhid menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Johor-Riau ke-7 yaitu pada era pemerintahan Sultan Abdul Jalil Syah III (1623—1677) dan Sultan Mahmud Syah II (1685—1699).

Kala itu bendaharanya adalah Bendahara Sri Maharaja Tun Habib Abdul Majid dan Bendahara Paduka Raja Tun Abdul Jalil. Kota Tinggi kala itu didatangi oleh banyak sekali pedagang dari pelbagai negara seperti Cina, Inggris, India, Arab, Eropa, dan Kepulauan Nusantara (di Malaysia disebut Kepulauan Melayu). Portugis pernah beberapa kali menyerang Kota Tinggi, tetapi dapat dikalahkan oleh tentara Johor-Riau. Komplek Makam Sultan Mahmud Mangkat Dijulang berdiri tesergam di samping kiri Mesjid Kampung Makam dan merupakan komplek makam termegah di sepanjang Sungai Johor.

Menghilir Sungai Johor kira-kira 3 km dari Kota Tinggi terdapat Kota Batu Sawar. Kota ini dibangun setelah Kerajaan Johor-Riau kalah dari Portugis pada 1587. Batu Sawar menjadi pusat pemerintahan Johor-Riau semasa Sultan Alauddin Riayat Syah III (1597—1615) dan menjadi tempat berdirinya istana Sultan Abdul Jalil Syah III (1623—1677). Batu Sawar juga banyak didatangi pedagang mancanegara ketika menjadi ibukota Kerajaan Johor-Riau. Pada 1608 tentara Potugis menyerang kota ini, tetapi kuasa asing itu dapat dikalahkan oleh tentara Johor-Riau. Pada 1613 Aceh dengan pasukan yang besar menyerang Batu Sawar sehingga terjadi peperangan selama 29 hari. Sultan Alauddin Riayat Syah III, Raja Abdullah adinda Baginda Sultan, dan Tun Seri Lanang ditawan dan dibawa ke Aceh. Pada 1673 tentara Kerajaan Jambi pula menyerang Batu Sawar yang menjadi tempat bersemayamnya Sultan Abdul Jalil Syah III. Batu Sawar tempo dulu laksana “nak dara jelita” yang senantiasa membangkitkan nafsu pihak luar untuk memilikinya dengan pelbagai cara dan helah. Johor-Riau memang senantiasa menawan, tak dulu tak sekarang, begitulah adanya. Kini di Batu Sawar terdapat Makam Sultan Alauddin Riayat Syah II, putera Sultan Mahmud Melaka yang juga sultan pertama Riau-Johor, yang berupaya membangun negara Melayu baru di Johor setelah kekalahan Melaka dari Portugis.

Kini kita menghilir sekitar 7 km dari Bandar Kota Tinggi ke tempat di antara kuala Sungai Seluyut dan Selat Medina. Di ketinggian sekitar 204 kaki dari paras air terdapat Kota Seluyut di atas Bukit Seluyut. Kota Seluyut menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Johor-Riau semasa Sultan Muzaffar Syah (1564—1570). Di kota ini pulalah Tun Muhammad atau yang terkenal dengan nama Tun Seri Lanang pengarang buku Sulalatu’s Salatin atau Sejarah Melayu itu dilahirkan. Sebagai pusat pemerintahan, Kota Seluyut hanya bertahan 7 tahun saja karena kemudian Sultan Ali Jalla Abdul Jalil memindahkan pusat pemerintahannya ke Tanah Putih selama 2 tahun, untuk kemudian dipindahkan lagi ke Johor Lama.

‘Di ketinggian Bukit Seluyut selain terdapat tinggalan Kota Seluyut, juga dijumpai Komplek Makam Tiga Beranak. Di makam itu bersemayam dengan damai dan tenang Sultan Muzaffar Syah, Raja Fatimah (adinda Sultan Muzaffar), dan Sultan Muzaffar Syah II yang disebut juga Marhum Seluyut yang meninggal ketika masih kecil. Di komplek yang terpisah terdapat satu makam lagi yaitu Makam Bendahara Seri Maharaja Tun Isap Misai. Sebagai tambahan, jabatan bendahara dalam pemerintahan Kerajaan Melayu merupakan jabatan tertinggi kedua di bawah sultan. Di antara tinggalan sejarah di sepanjang Sungai Johor, tantangan terbesar di Bukit Seluyut inilah karena kita harus menaiki bukit yang agak terjal juga. Walaupun begitu, kesan yang diperoleh tetaplah menyenangkan dan membahagiakan. (Bersambung).

Posting Komentar Anda

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.